Bipolar Disorder

this is ME, trying to keep more of what you love ME choose.

I mean, pork….. at BPK Ingetenta – View on Path. View high resolution

I mean, pork….. at BPK Ingetenta – View on Path.

PORK…. at BPK Ingetenta – View on Path. View high resolution

PORK…. at BPK Ingetenta – View on Path.

Halusinasi banget ya… klo musik moment ini Pink Floyd namanya – View on Path. View high resolution

Halusinasi banget ya… klo musik moment ini Pink Floyd namanya – View on Path.

Hijaber lagi maksber… rumpi ya nêk at Nasi Timbel Hj Nunung – View on Path. View high resolution

Hijaber lagi maksber… rumpi ya nêk at Nasi Timbel Hj Nunung – View on Path.

Membuat peran masyarakat siapun dia yang menggunakan smartphone untuk bisa terlibat langsung dengan lingkungannya, dalam mengawasi langsung setiap program dan kerja pemerintah. Caranya, dgn menggunakan seluruh sosial network, dengan photo & video sebagai informasi yg akurat. Contoh; ketebalan aspal saat ada proyek pengaspalan jalan, sesuai tidak dgn rencana proyek. Atau prilaku pegawai negeri sehari-hari. Dengan demikian masyarakat benar-benar bisa mengawasi langsung segala program yang seharusnya dapat memberikan kualitas & kesejahteraan bagi masyarakat.

Thought via Path

Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas ditempat tidurnya. (Amsal 26:14) – Read on Path.

Berapa lama lagi kau hukum diri ku?

Malam ini aku menunggu untuk hal sederhana yang sudah lama tidak dilakukan

Sibuk dan lelah, adalah kambing hitam yang dipaksa untuk bisa dimengerti dan paham

CATATAN FESTIVAL FILM DOKUMENTER BALI 2012

CATATAN FESTIVAL FILM DOKUMENTER BALI 2012

 

          Dalam setiap festival film, akan ada banyak sekali harapan yang diberikan oleh masyarakat penonton yang dating ke festival tersebut. Khususnya festival film documenter.

Harapan penonton untuk dapat melihat film-film yang berkualitas dalam bercerita dan menggambarkan “Realitas” kehidupan, kebudayaan, peristiwa, prilaku, dengan berbagai permasalahan yang terjadi didalamnya. Film-film yang tidak bisa mereka lihat di televisi.Film-film yang berani melawan kebiasaan dan nakal.

 

          Perkembangan jaman dan keterbukaan arus informasi telah membuat masyarakat semakin tertarik terhadap media audio visual / video [film]. Tidak saja sekedar sebagai penonton, namun juga untuk menjadi seorang pembuat film [filmmaker]. Kondisi ini tidak lepas dari semakin murahnya harga-harga peralatan audio video dengan kualitas yang bagus [kualitas broadcast] sehingga masyarakat bias memiliki dengan mudah. Tidak seperti 10 tahun lalu yang hanya bisa dimiliki oleh station televise atau perusahan rumah produksi karena harganya yang mahal.

 

          Tidak mengherankan jika latarbelakang diatas juga membuat Bali ikut memiliki perkembangan kemampuan videography yang juga memiliki intensitas produksi seperti video music untuk lagu-lagu Bali yang semakin disukai masyarakat Bali dan juga industry video wedding yang akan selalu hidup.

 

Kemampuan dan kreatifitas filmmaker di Bali umumnya lahir secara otodidak atas dasar ketertarikan dan “ingin bisa” yang akhirnya membuat mereka survive dan bahkan menjadikan penghasilan utama. Dari segi karya saat ini kita tidak bisa dengan mudah menilai karakter yang dimiliki oleh filmmaker tersebut, karena sudah banyak refrensi yang sangat bisa dilihat melalui media internet [youtube] dan mempelajari apa yang menarik dari film tersebut.

 

Sedangkan untuk film documenter, karya-karya yang lahir cenderung sangat dipengaruhi oleh tayangan dan program-program yang biasa kita lihat di televisi. Ini juga yang bisa kita lihat dari para nominasi film-film yang masuk didalam Festival Film Dokumenter Bali 2012. Bahwa pengaruh televise hamper menjadi cirri khas dalam semua festival film documenter di Indonesia. Yang selalu dapat kita rasakan adalah gaya bertutur yang mirip dengan program Pustaka Anak Nusantara yang sempat menjadi acara paling menarik dan cerdas di Indonesia. Atau juga pengaruh dari program anak-anak, petualangan/adventure, reality show,  dan lainnya. Bahkan banyak juga yang terpengaruh oleh company profile, dan feuture news.

 

Artinya, film-film yang kita tonton hanya sebatas sebuah informasi yang ingin menyampaikan pemberitahuan bahwa ada sesuatu, bahwa ada yang menarik dan beda. Pertanyaannya adalah apakah yang disampaikan itu juga menarik bagi penonton? Atau hanya menarik bagi si pembuat saja?  Kemudian sutradara sibuk menjelaskan apa yang dianggapnya menarik, di sepanjang filmnya. Tidak sedikit penonton merasa bosan dan akhirnya meninggalkan acara.

 

Hampir kebanyakan filmmaker terlalu percaya diri jika tema yang dibuatnya menarik karena “seolah-olah berani”. Namun lupa bahwa membuat sebuah film, artinya “membuat film untuk ditonton oleh penonton”. Filmmaker harus mampu mengikat penonton untuk tetap duduk dan menonton hingga akhir. Membuat penonton memiliki rasa ingin tau;  Ada apa di film ini? Kenapa bisa demikian? Bagaimana nanti akhirnya?

          Apa yang membuat penonton bisa bertahan adalah dayatarik akan apa masalahnya sehingga tema yang diangkat dalam film documenter ini menarik? Masalah tidak harus suatu konflik dengan pertengkaran.

 

Kita ambil contoh beberapa film yang menjadi Nominasi dan mengangkat isu “Pluralisme” atau keberagaman. Di Bali yang kental dengan budaya hindu ternyata ada beberapa wilayah yang bisa berbaur dan saling harmonis antara agama dan culture Islam dan Hindu. Isu ini mungkin “dianggap menarik” karena Indonesia memang sangat sensitive dan sering terjadinya gesekan konflik karena perbedaan keyakinan dan agama. Namun sayangnya film-film tersebut hanya menarik karena wacana namun tidak berarti apa-apa disepanjang film.

          Penonton tentu bukan sekedar ingin melihat Islam dan Hindu berdampingan dalam satu tempat saja, namun juga cerita dibaliknya seperti:

·         “Apa saja cerita kesulitan dalam mempertahankan kebersamaan tersebut?”

·         “Bagaimana subjek berusaha mempertahankan, sedangkan banyak omongan yang harus diterima subjek, yang membuatnya goyah?”

Tentu banyak sekali pertanyaan yang akhirnya bisa membangun cerita.

 

Filmmaker juga cenderung tidak memiliki subjek bagi pengantar cerita yang memiliki karakter yang kuat secara ekspresif . Sehingga apa yang dilihat penonton hanyalah sebuah kumpulan interview tanpa adanya intonasi emotional yang bisa menggetarkan hati “bahwa perbedaan yang ditunjukkan ini Indah”. 

 

          Hampir disemua film yang ditampilkan lemah dalam memunculkan karakter dan subjek. Pun begitu dalam membuat dan menampilkan gambar. Banyak yang berpikir jika film yang bagus tentu dengan alat yang bagus dan canggih. Tidak selalu. Film menjadi bagus karena dasarnya adalah filmmaker mampu menghadirkan begitu banyak gambar/visual dari berbagai angle, dan sudut pandang [point of view] dan memanjakan penonton dengan gambar-gambar yang tenang. Memanjakan penonton dan tidak memaksa atau membuat penonton pusing karena gambarnya selalu goyang-goyang.

          Jika memang punya tripod, tolong jangan malas untuk menggunakan triod. Jika tidak, usahakan tidak banyak membuat gerakan.

Salah jika hanya dengan kamera di tangan bisa menunjukkan kedekatan filmmaker dengan subjeknya. Kedekatan itu muncul dari pendekatan dan bagaimana riset yang dilakukan sebelum shooting.

 

Kecenderungan film documenter ingin melakukan jalan pintas untuk menjelaskan atau menyampaikan informasi kepada penonton. Dengan memberikan narasi atau melakukan interview dan dijadikan sebagai pengganti narasi. Tidak salah. Namun sering sekali interview ini mengganggu dan hanya berkesan seperti tempelan untuk meramaikan film.

Jika diperhatikan fungsi narasi atau interview adalah untuk menyampaikan informasi yang “tidak mampu digambarkan secara visual”, mengapa kita selalu melihat kumpulan gambar yang juga dijelaskan sama persis dengan apa yang disampaikan.Seolah menggurui penonton, seolah penonton tidak pham apa yang ditampilkan sehingga harus dijelaskan “Ini sekolah”.

 

Kita semua harus bisa kembali memahami apa itu film. Film adalah kumpulan visual. Artinya film memiliki kekuatan yang lebih dari hanya sekedar suara, karena di film kita bisa melihat dan mendengar. Film/Video  menjadi media yang paling kuat karena kekuatan visual didukung oleh kekuatan audio/suara yang menyatu. Film tidak sama dengan Radio yang hanya mengeluarkan suara. Sehingga menggunakan suara di film harus bisa memberikan nilai lebih jika visual/gambar yang ditampilkan akan semakin kuat dengan penambahan audio/suara, termasuk music didalamnya.

          Narasi atau interview yang berkepanjangan sering membuat film dokumnter menjadi mentah, karena tidak jauh berbeda dengan penonton mendengarkan sebuah radio yang sedang bercerita.  Bayangkan “jika penonton yang datang menutup mata dan mendengarkan semua informasi yang disampaikan maka penonton sudah bisa mengetahui apa yang disampaikan film tersebut, maka film ini gagal”. Karena visual tidak memiliki kekuatan apapun. Menonton film documenter, bukan menonton radio.

 

 

Memang tidak ada yang mudah dan bisa langsung menjadikan sebuah film “Sempurna” dalam sekejap. Kita tentu percaya akan sebuah proses. 1 atau 2 film belum cukup untuk menciptakan karya yang baik, setidaknya mampu mengikat penonton atas rasa ingin tau.

          Dan disinilah pentingnya sebuah festival film yang akan menjadi tempat bagi masyarakat dan filmmaker untuk menunjukkan dan melihat kemampuan yang sudah dibuat.Apresiasi yang harus disediakan sebanyak-banyak nya dan pelan-pelan mengajak penonton di Bali khusus nya untu mau mengenal dan tertarik pada film-film dokumeter.

 

Dan membuat film documenter tidak harus selalu pada isu-isu / tema yang besar. Karena apa yang ada disekitar kita, apa yang ada didekat kita akan jauh lebih menarik bagi penonton. Selain itu menjadi kuat karena kedekatan pembuat film/filmmaker/sutradara pada isu nya.

 

Ada harapan besar bagi saya sebagai penulis terhadap film dokumnter.

          Melihat Bali dengan eksotisme alam, seni dan budaya yang menjadikan exploitasi pariwisata sebagai “seolah” satu-satunya sumber pendapan tentu menjadikan Bali terus mengalami pergerakan dalam pembangunan dan social masyarakat. Melihat Bali bukan lagi sekedar keunikan agama dan seni.Melihat Bali juga dengan daya kritis terhadap lingkungan dan pemerintah atas berbagai kebijakan.

          Sehingga documenter bisa menjadi film dengan fungi lain untuk menjaga daya kritis masyarakat dan sebagai media control bagi berbagai siatuasi dan peristiwa.

 

Igk trisna pramana

081908166004

@siapselem

 

 

#Pray #Pedande/Pendeta #Ritual #Ngaben #Bali

#Pray #Pedande/Pendeta #Ritual #Ngaben #Bali

Ultralite Powered by Tumblr | Designed by:Doinwork